Hope you can enjoy ^^
Part 1
Number 1 is my lucky number
Menjadi pemenang bukanlah hal yang
mudah.Tidak hanya pantang menyerah saja tapi butuh spirit dari dalam. Namun
setiap diri kita masing-masing punya karakter yang berbeda–beda. Masa depan
seseorang tergantung pada dirinya. Disiplin,rajin dan tanggung jawab juga
perlu. Kalau hanya bertopang dagu saja takkan tau tentang dunia luar. Sesekali
seseorang harus gagal mencapai impiannya seperti ingin menjadi ranking 1 . Itu
memang mustahil , tapi apa salahnya untuk mencoba mendapatkan rangking satu
dari peringkat terakhir. Tidak ada yang mustahil didunia ini. Hingga aku jadi
sekarang ini. Aku tak pernah lupa kejadian yang pernah kualami.
“Excuse me, are you the Indonesian student from
University of Cambridge?” tanya seorang wanita yang membuatku terhenti dari
lamunanku.
“ Yes,I am,” jawabku dengan sopan.
“I’m Julia. I’m the assintant of principal in here. The
principal is waiting for you. Please follow me to meet him. ” kata wanita
dengan rambut blonde itu. Aku menjawabnya dengan anggukan dan mengikutinya.Hanya
5 menit aku sudah sampai di kantor rektor. Jujur saja,aku agak gugup karena
harus bertemu dengan pimpinan universitas ini. Pintu dibuka dan aku pun masuk.
Disana sudah ada tiga dosen lainnya. Aku menyapa mereka sesopan mungkin dan aku
duduk dikursi didepan mereka. Setelah kira – kira 15 menit berbincang-bincang
dengan para dosen,aku keluar dari kantor. Sebelumnya belum aku jelaskan
bagaimana aku bisa disini. Aku ikut program pertukaran pelajar ke Universitas
Inggris dan setelah melalui tes aku bisa lolos. Akhirnya aku dikirim dari
Australia ke Los Angeles,Amerika dengan biaya gratis,karena aku mendapat
beasiswa dari universitasku. Ini hal yang membuatku merasa senang bisa
berkuliah di Inggris.
Selesai dari urusan di Universitas aku
tak sabar menikmati keindahan kota Los Angeles. Musim sekarang di Los Angeles
adalah musim gugur jadi aku selalu memakai jaket dan syal. Walaupun baru musim
gugur tapi suhu disini sudah lumayan dingin. Aku terus berjalan menuju taman.
Aku duduk dikursi taman yang kebetulan kosong. Sambil memandang sekitar taman
tiba-tiba saja aku teringat dengan masa dulu sewaktu masih sekolah di SMP.
Flashback
Hari ini aku beruntung karena tadi jam
pelajaran kosong jadi aku bisa menggambar gambaran yang belum kuselesaikan.
“ Lice ? “ suara itu membuatku berhenti menggambar.Aku
menoleh ke arah suara itu . Rena? Tumben dia memanggilku. Apakah ada sesuatu
yang terjadi.
“ Kamu dipanggil Bu Wanda.” Kata Rena dengan wajah yang
serius.Mendengar perkataannya aku segera beranjak dari kursi tempat
dudukku.Dalam hatiku timbul perasaan cemas,pikiranku membayangkan yang tidak
–tidak. Kupercepat langkahku sambil mencoba meredam semua perasaanku. Kulihat
didepan kantor guru,Bu Wanda sudah menunggu. Dengan cemas aku segera mendekat.
“ Ibu panggil saya ? ”
“ Kemari masuk dulu,” kata bu Wanda sambil menepuk
bahuku. Masuk ke kantor membuatku gugup,meskipun aku sudah beberapa kali masuk
ke dalam. Sekilas aku lihat disekeliling hanya ada sedikit guru yang didalam. Aku
kembali fokus ke bu Wanda.
“ Lice,langsung saja tujuan ibu memanggil kamu kesini
karena,.....” kata –kata bu Wanda terhenti. “...prestasi kamu terus menurun,
jika kamu begini terus kamu bisa tidak
naik kelas. Masih ada sisa satu semester lagi kamu bisa mengubah nilaimu. Kalau
kamu punya masalah, kamu boleh bercerita dengan ibu.”
Aku hanya terdiam mendengar ucapan bu
Wanda. Entah kenapa aku tak bisa mengatakan langsung. Aku ingin mengatakan
banyak tapi yang keluar dari mulutku “ maaf,bu.”
“ Tidak apa-apa kalau kau tak bilang sekarang. Tapi ingat
kata ibu yang tadi. Ibu ingin kamu menjadi lebih baik. Nantinya kamu akan mudah
mencapai cita – citamu. Ya sudah, sekarang kembalilah ke kelas.”
Aku hanya mengangguk dan berjalan ke
luar. Kembali ke kelas lagi hanya membuatku bosan. Bagiku mereka semua adalah gambar-gambar
yang bergerak. Mereka tak pernah menganggapku sekalipun. Aku hanya memilih
diam. Itu semua bukan sepenuhnya salahku, mereka yang memulai duluan. Aku
berniat baik tapi mereka menganggap sebaliknya. Semua ini sudah kutahan dari
dulu, andai aku ini tak sabar pastilah aku akan melaporkan mereka pada guru. Ini
semacam diskriminasi. Masalah tidak hanya itu,masalah yang sering dialami oleh
orang, ya, masalah ekonomi. Harus kuakui hidup sekarang lebih kejam,para
penjilat uang rakyat semakin merajalela. Mereka semakin kaya karena tiada hari
tanpa uang,seperti peribahasa sedikit demi sedikit lama – lama jadi gunung.
Sekarang mau mencari pekerjaan saja sudah susah. Belum lagi masih ada permainan
uang. Tapi yang pasti, agar bisa menjadi orang sukses harus berbekal kepandaian
dan ketrampilan. Dari dulu aku ingin bisa membanggakan orang tuaku tapi
sayangnya, aku belum bisa mewujudkan impianku itu. Dalam lubuk hatiku, aku
terus bertanya Mungkinkah aku bisa meraih mimpi – mimpi ku ini ? bahkan
sekarang aku tak punya semangat bangkit lagi.
*****************
Pagi – pagi keluargaku sudah ribut. Ibuku
memarahi kakakku karena kakakku bangun kesiangan dan hampir telat masuk kuliah.
Aku tertawa saat mengingat suatu kejadian saat kakakku memakai sandal yang
bukan pasangannya. Alhasil, kakakku harus kembali ke lagi ke rumah.
“ Lice, ada apa kau tertawa sendiri?
cepat segera berangkat sana, nanti kau bisa telat!” suara ibu ku membuat aku
berhenti tertawa.
“ Aku berangkat dulu, Assalamualaikum,”
aku bergegas mencium tangan ibuku dan keluar rumah. Seperti biasanya aku
berangkat dengan berjalan kaki karena sekolahku hanya dekat sekitar 50 meter
dari rumahku. Sesampai dikelas aku hanya terdiam sambil membuka buku – buku
didalam tasku. Bel masuk pun berbunyi, murid –murid lain segera bergegas ke
kelas ada yang sambil berlari,berjalan, bahkan makan sambil berlari. Dalam
batin aku bertanya-tanya bagaimana mereka bisa makan sambil berlari? Kalau aku
pasti sudah tersedak. Tak lama ibu guru pun datang, tapi kali ini bersama
seorang murid baru. Teman – temanku khususnya yang perempuan beributan karena
murid baru ini adalah cowok. Aku tidak begitu memperhatikannya, yang jelas aku
sangat tidak nyaman dengan keributan.
“ Selamat pagi anak- anak, mulai sekarang kalian akan
punya teman baru. Dia baru pindah dari Bandung. Nah, Farid sekarang perkenalkan
dirimu kepada teman – temanmu,” kata Bu Wanda
“ Namaku Farid Darren. Panggil aja Farid. Aku pindahan dari
SMP Bogor Boarding School,” kata murid baru itu.
“ Nah,sekarang kamu duduk disebelah Alice ya, kebetulan
hanya tempat itu satu-satunya tempat yang kosong. Baik mari kita segera mulai
pelajaran,” ujar bu Wanda sambil menunjuk ke arah kursi sebelahku. Jujur saja
aku agak keberatan dia duduk disebelahku karena sudah pasti aku siap diteror
oleh teman sekelas. Benar saja, ketika Farid berjalan menuju ke kursi
sebelahku, semua mata menatap tajam ke arahku tapi hanya yang perempuan saja.
“ Hai, aku Farid. Kamu? ”
“ Alice,” aku hanya menjawab dengan datar,bahkan tidak
menoleh ke arahnya. Mungkin dia sekarang berpikir kalau aku sombong,judes dan
sebagainya.
“ Aku tahu kalau kehadiranku membuatmu tak nyaman,” jawab
Farid tanpa kuduga. Bagaimana dia bisa tahu apa yang aku fikirkan. “ Lihat
saja, mereka menatapmu tajam sekarang,” Lanjutnya. Kali ini aku menoleh ke
arahnya, ternyata dia juga sedang menoleh ke arahku. Dia tersenyum kearahku.
Sekilas dia sepertinya orang yang baik. Tanpa sadar aku menjadi malu karena aku
tak terbiasa duduk dekat dengan anak laki- laki, aku segera menghadap ke depan
lagi.
Pelajaran hari ini seperti biasa tidak
menarik. Aku lebih suka pelajaran menggambar. Ini karena hobiku sejak kecil
adalah menggambar. Menurutku dengan menggambar seseorang bisa menumpahkan
expresinya ke dalam coretan warna di kertas. Mungkin bisa juga sebagai curahan
hati,misalnya saat sedang patah hati, seseorang yang baru sedih ini akan
menggambarkan gambar hati patah di buku tulisnya. Tapi tak semua orang senang
menggambar, seseorang mungkin akan lebih nyaman bila menulis dibuku hariannya. Setelah
selesai pelajaran ke tiga, aku segera mengambil secarik kertas dan pensil untuk
menggambar. Sementara semua murid sudah berhamburan keluar kelas untuk
istirahat.
“ Kenapa kau tak istirahat,Lice? ” kata Farid tiba-tiba.
Aku menoleh, dan kemudian menatap gambaranku lagi. “ Aku tidak lapar. Kenapa
kau tak istirahat juga? “ tanyaku kembali.
“ Aku bawa bekal dari rumah. Kamu mau? “ jawabnya sambil
menyodorkan roti tawar didalam wadah tempat makanannya.
“ Tidak,terima kasih. Kau makan saja sendiri.
Ngomong-ngomong, aku baru lihat anak laki-laki menbawa bekal seperti kamu.
Biasanya jarang anak laki- laki yang membawa bekal dari rumah.”
“ Ini karena aku ingin aku bisa lebih hemat lagi. Kau
tahu, dulu aku sering boros uang dan aku sering dimarahi Ibuku. Belum lama ini
aku mencoba untuk hemat, walaupun agak sulit tapi aku terus mencoba.”
“ Yah, syukurlah kalau kamu bisa lebih hemat. Yang lebih
baik lagi kamu bisa menabung. Nanti kalau sudah banyak bisa untuk tambahan
biaya sekolah. Tapi kau beruntung, keluargamu orang mampu jadi bisa membiayai
sekolahmu waktu di BSS. Dilihat dari namanya saja sudah kelihatan kalau itu
bukan sekolah yang murah.”
“ Aku...” kata-kata Farid
terhenti ketika mendengar suara nyaring Erin.
“ Alice,where are youuuu ? ada yang nyari kamu tuh,” kata
Erin. Dia adalah teman sekelasku juga dia satu-satunya murid yang paling centil
dan agak sombong. Maklum dia anak pengusaha besar di kota ini. Apapun yang dia
minta pasti dibelikan sama Ayahnya. Aku segera berdiri dengan malas,sementara
gambaranku hanya kubiarkan dimeja. “ Sebentar ya,” kataku kepada Farid.
Aku berjalan keluar kelas tapi ketika
sampai didepan pintu tiba-tiba lantai menjadi licin dan tak bisa dihindari lagi
aku terjatuh. Aku ditertawakan banyak murid lain yang sedang diluar kelas. Aku
melihat dilantai, ternyata disini ditebari bedak putih. Mereka benar-benar
keterlaluan. Aku mencoba berdiri tapi sebuah tangan terulur didepanku. Aku
menatap ke arah wajah yang mengulurkan tangannya ke arahku. Farid datang
menolongku,dia segera membantu berdiri.
“ Farid, kenapa kamu tolongin dia? Dia itu cuma pura-pura
sakit. Kamu nggak tau siapa sebenarnya dia,” kata Erin dengan nada kesal.
“ Terserah kamu saja.” jawab Farid dengan datar. Kulihat
Erin menarik lengan baju Farid, kemudian Farid melepas tangan Erin yang menarik
lengan bajunya. Aku segera kembali ketempat dudukku. Disusul Farid yang juga
kembali ketempat duduknya.
“ Kamu nggak papa kan?”
tanya Farid
“ Nggak papa kok. Hmm,makasih
ya udah nolongin aku.”
“Lain kali,kamu harus hati-hati ya. Mereka bener – bener keterlaluan.
Sesekali kamu harus bales mereka. Apalagi si Erin itu, lebay banget,bikin risih
aja.”
“ Biarin aja. Lama – lama
mereka pasti akan capek sendiri ngerjain aku. Selama bukan masalah besar aku
coba sabar aja. Lagi pula lebih baik memikirkan pelajaran daripada yang
begitu.”
“Kamu memang orang yang
baik,Lice. Aku salut sama kamu.”
“Nggak juga kok. Aku malah
banyak kekurangan.”
Bel istirahat masuk berbunyi nyaring.
Percakapanku dengan Farid terpaksa berhenti disini. Ibu guru sudah masuk kelas
dan memulai pelajaran selanjutnya akan dimulai lagi.
to be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar