Jumat, 20 Desember 2013

Story 1

Story by me
Hope you can enjoy ^^
Part 1

Number 1 is my lucky number



Menjadi pemenang bukanlah hal yang mudah.Tidak hanya pantang menyerah saja tapi butuh spirit dari dalam. Namun setiap diri kita masing-masing punya karakter yang berbeda–beda. Masa depan seseorang tergantung pada dirinya. Disiplin,rajin dan tanggung jawab juga perlu. Kalau hanya bertopang dagu saja takkan tau tentang dunia luar. Sesekali seseorang harus gagal mencapai impiannya seperti ingin menjadi ranking 1 . Itu memang mustahil , tapi apa salahnya untuk mencoba mendapatkan rangking satu dari peringkat terakhir. Tidak ada yang mustahil didunia ini. Hingga aku jadi sekarang ini. Aku tak pernah lupa kejadian yang pernah kualami.
“Excuse me, are you the Indonesian student from University of Cambridge?” tanya seorang wanita yang membuatku terhenti dari lamunanku.
“ Yes,I am,” jawabku dengan sopan.
“I’m Julia. I’m the assintant of principal in here. The principal is waiting for you. Please follow me to meet him. ” kata wanita dengan rambut blonde itu. Aku menjawabnya dengan anggukan dan mengikutinya.Hanya 5 menit aku sudah sampai di kantor rektor. Jujur saja,aku agak gugup karena harus bertemu dengan pimpinan universitas ini. Pintu dibuka dan aku pun masuk. Disana sudah ada tiga dosen lainnya. Aku menyapa mereka sesopan mungkin dan aku duduk dikursi didepan mereka. Setelah kira – kira 15 menit berbincang-bincang dengan para dosen,aku keluar dari kantor. Sebelumnya belum aku jelaskan bagaimana aku bisa disini. Aku ikut program pertukaran pelajar ke Universitas Inggris dan setelah melalui tes aku bisa lolos. Akhirnya aku dikirim dari Australia ke Los Angeles,Amerika dengan biaya gratis,karena aku mendapat beasiswa dari universitasku. Ini hal yang membuatku merasa senang bisa berkuliah di Inggris.
Selesai dari urusan di Universitas aku tak sabar menikmati keindahan kota Los Angeles. Musim sekarang di Los Angeles adalah musim gugur jadi aku selalu memakai jaket dan syal. Walaupun baru musim gugur tapi suhu disini sudah lumayan dingin. Aku terus berjalan menuju taman. Aku duduk dikursi taman yang kebetulan kosong. Sambil memandang sekitar taman tiba-tiba saja aku teringat dengan masa dulu sewaktu masih sekolah di SMP.
Flashback
Hari ini aku beruntung karena tadi jam pelajaran kosong jadi aku bisa menggambar gambaran yang belum kuselesaikan.
“ Lice ? “ suara itu membuatku berhenti menggambar.Aku menoleh ke arah suara itu . Rena? Tumben dia memanggilku. Apakah ada sesuatu yang terjadi.
“ Kamu dipanggil Bu Wanda.” Kata Rena dengan wajah yang serius.Mendengar perkataannya aku segera beranjak dari kursi tempat dudukku.Dalam hatiku timbul perasaan cemas,pikiranku membayangkan yang tidak –tidak. Kupercepat langkahku sambil mencoba meredam semua perasaanku. Kulihat didepan kantor guru,Bu Wanda sudah menunggu. Dengan cemas aku segera mendekat.
“ Ibu panggil saya ? ”
“ Kemari masuk dulu,” kata bu Wanda sambil menepuk bahuku. Masuk ke kantor membuatku gugup,meskipun aku sudah beberapa kali masuk ke dalam. Sekilas aku lihat disekeliling hanya ada sedikit guru yang didalam. Aku kembali fokus ke bu Wanda.
“ Lice,langsung saja tujuan ibu memanggil kamu kesini karena,.....” kata –kata bu Wanda terhenti. “...prestasi kamu terus menurun, jika kamu begini terus kamu  bisa tidak naik kelas. Masih ada sisa satu semester lagi kamu bisa mengubah nilaimu. Kalau kamu punya masalah, kamu boleh bercerita dengan ibu.”
Aku hanya terdiam mendengar ucapan bu Wanda. Entah kenapa aku tak bisa mengatakan langsung. Aku ingin mengatakan banyak tapi yang keluar dari mulutku “ maaf,bu.”
“ Tidak apa-apa kalau kau tak bilang sekarang. Tapi ingat kata ibu yang tadi. Ibu ingin kamu menjadi lebih baik. Nantinya kamu akan mudah mencapai cita – citamu. Ya sudah, sekarang kembalilah ke kelas.”
Aku hanya mengangguk dan berjalan ke luar. Kembali ke kelas lagi hanya membuatku bosan. Bagiku           mereka semua adalah gambar-gambar yang bergerak. Mereka tak pernah menganggapku sekalipun. Aku hanya memilih diam. Itu semua bukan sepenuhnya salahku, mereka yang memulai duluan. Aku berniat baik tapi mereka menganggap sebaliknya. Semua ini sudah kutahan dari dulu, andai aku ini tak sabar pastilah aku akan melaporkan mereka pada guru. Ini semacam diskriminasi. Masalah tidak hanya itu,masalah yang sering dialami oleh orang, ya, masalah ekonomi. Harus kuakui hidup sekarang lebih kejam,para penjilat uang rakyat semakin merajalela. Mereka semakin kaya karena tiada hari tanpa uang,seperti peribahasa sedikit demi sedikit lama – lama jadi gunung. Sekarang mau mencari pekerjaan saja sudah susah. Belum lagi masih ada permainan uang. Tapi yang pasti, agar bisa menjadi orang sukses harus berbekal kepandaian dan ketrampilan. Dari dulu aku ingin bisa membanggakan orang tuaku tapi sayangnya, aku belum bisa mewujudkan impianku itu. Dalam lubuk hatiku, aku terus bertanya Mungkinkah aku bisa meraih mimpi – mimpi ku ini ? bahkan sekarang aku tak punya semangat bangkit lagi.
*****************
Pagi – pagi keluargaku sudah ribut. Ibuku memarahi kakakku karena kakakku bangun kesiangan dan hampir telat masuk kuliah. Aku tertawa saat mengingat suatu kejadian saat kakakku memakai sandal yang bukan pasangannya. Alhasil, kakakku harus kembali ke lagi ke rumah.
“ Lice, ada apa kau tertawa sendiri? cepat segera berangkat sana, nanti kau bisa telat!” suara ibu ku membuat aku berhenti tertawa.
“ Aku berangkat dulu, Assalamualaikum,” aku bergegas mencium tangan ibuku dan keluar rumah. Seperti biasanya aku berangkat dengan berjalan kaki karena sekolahku hanya dekat sekitar 50 meter dari rumahku. Sesampai dikelas aku hanya terdiam sambil membuka buku – buku didalam tasku. Bel masuk pun berbunyi, murid –murid lain segera bergegas ke kelas ada yang sambil berlari,berjalan, bahkan makan sambil berlari. Dalam batin aku bertanya-tanya bagaimana mereka bisa makan sambil berlari? Kalau aku pasti sudah tersedak. Tak lama ibu guru pun datang, tapi kali ini bersama seorang murid baru. Teman – temanku khususnya yang perempuan beributan karena murid baru ini adalah cowok. Aku tidak begitu memperhatikannya, yang jelas aku sangat tidak nyaman dengan keributan.
“ Selamat pagi anak- anak, mulai sekarang kalian akan punya teman baru. Dia baru pindah dari Bandung. Nah, Farid sekarang perkenalkan dirimu kepada teman – temanmu,” kata Bu Wanda
“ Namaku Farid Darren. Panggil aja Farid. Aku pindahan dari SMP Bogor Boarding School,” kata murid baru itu.
“ Nah,sekarang kamu duduk disebelah Alice ya, kebetulan hanya tempat itu satu-satunya tempat yang kosong. Baik mari kita segera mulai pelajaran,” ujar bu Wanda sambil menunjuk ke arah kursi sebelahku. Jujur saja aku agak keberatan dia duduk disebelahku karena sudah pasti aku siap diteror oleh teman sekelas. Benar saja, ketika Farid berjalan menuju ke kursi sebelahku, semua mata menatap tajam ke arahku tapi hanya yang perempuan saja.
“ Hai, aku Farid. Kamu? ”
“ Alice,” aku hanya menjawab dengan datar,bahkan tidak menoleh ke arahnya. Mungkin dia sekarang berpikir kalau aku sombong,judes dan sebagainya.
“ Aku tahu kalau kehadiranku membuatmu tak nyaman,” jawab Farid tanpa kuduga. Bagaimana dia bisa tahu apa yang aku fikirkan. “ Lihat saja, mereka menatapmu tajam sekarang,” Lanjutnya. Kali ini aku menoleh ke arahnya, ternyata dia juga sedang menoleh ke arahku. Dia tersenyum kearahku. Sekilas dia sepertinya orang yang baik. Tanpa sadar aku menjadi malu karena aku tak terbiasa duduk dekat dengan anak laki- laki, aku segera menghadap ke depan lagi.
Pelajaran hari ini seperti biasa tidak menarik. Aku lebih suka pelajaran menggambar. Ini karena hobiku sejak kecil adalah menggambar. Menurutku dengan menggambar seseorang bisa menumpahkan expresinya ke dalam coretan warna di kertas. Mungkin bisa juga sebagai curahan hati,misalnya saat sedang patah hati, seseorang yang baru sedih ini akan menggambarkan gambar hati patah di buku tulisnya. Tapi tak semua orang senang menggambar, seseorang mungkin akan lebih nyaman bila menulis dibuku hariannya. Setelah selesai pelajaran ke tiga, aku segera mengambil secarik kertas dan pensil untuk menggambar. Sementara semua murid sudah berhamburan keluar kelas untuk istirahat.
“ Kenapa kau tak istirahat,Lice? ” kata Farid tiba-tiba. Aku menoleh, dan kemudian menatap gambaranku lagi. “ Aku tidak lapar. Kenapa kau tak istirahat juga? “ tanyaku kembali.
“ Aku bawa bekal dari rumah. Kamu mau? “ jawabnya sambil menyodorkan roti tawar didalam wadah tempat makanannya.
“ Tidak,terima kasih. Kau makan saja sendiri. Ngomong-ngomong, aku baru lihat anak laki-laki menbawa bekal seperti kamu. Biasanya jarang anak laki- laki yang membawa bekal dari rumah.”
“ Ini karena aku ingin aku bisa lebih hemat lagi. Kau tahu, dulu aku sering boros uang dan aku sering dimarahi Ibuku. Belum lama ini aku mencoba untuk hemat, walaupun agak sulit tapi aku terus mencoba.”
“ Yah, syukurlah kalau kamu bisa lebih hemat. Yang lebih baik lagi kamu bisa menabung. Nanti kalau sudah banyak bisa untuk tambahan biaya sekolah. Tapi kau beruntung, keluargamu orang mampu jadi bisa membiayai sekolahmu waktu di BSS. Dilihat dari namanya saja sudah kelihatan kalau itu bukan sekolah yang murah.”
“ Aku...” kata-kata Farid terhenti ketika mendengar suara nyaring Erin.
“ Alice,where are youuuu ? ada yang nyari kamu tuh,” kata Erin. Dia adalah teman sekelasku juga dia satu-satunya murid yang paling centil dan agak sombong. Maklum dia anak pengusaha besar di kota ini. Apapun yang dia minta pasti dibelikan sama Ayahnya. Aku segera berdiri dengan malas,sementara gambaranku hanya kubiarkan dimeja. “ Sebentar ya,” kataku kepada Farid.
Aku berjalan keluar kelas tapi ketika sampai didepan pintu tiba-tiba lantai menjadi licin dan tak bisa dihindari lagi aku terjatuh. Aku ditertawakan banyak murid lain yang sedang diluar kelas. Aku melihat dilantai, ternyata disini ditebari bedak putih. Mereka benar-benar keterlaluan. Aku mencoba berdiri tapi sebuah tangan terulur didepanku. Aku menatap ke arah wajah yang mengulurkan tangannya ke arahku. Farid datang menolongku,dia segera membantu berdiri.
“ Farid, kenapa kamu tolongin dia? Dia itu cuma pura-pura sakit. Kamu nggak tau siapa sebenarnya dia,” kata Erin dengan nada kesal.
“ Terserah kamu saja.” jawab Farid dengan datar. Kulihat Erin menarik lengan baju Farid, kemudian Farid melepas tangan Erin yang menarik lengan bajunya. Aku segera kembali ketempat dudukku. Disusul Farid yang juga kembali ketempat duduknya.
“ Kamu nggak papa kan?” tanya Farid
“ Nggak papa kok. Hmm,makasih ya udah nolongin aku.”
“Lain kali,kamu harus hati-hati ya. Mereka bener – bener keterlaluan. Sesekali kamu harus bales mereka. Apalagi si Erin itu, lebay banget,bikin risih aja.”
“ Biarin aja. Lama – lama mereka pasti akan capek sendiri ngerjain aku. Selama bukan masalah besar aku coba sabar aja. Lagi pula lebih baik memikirkan pelajaran daripada yang begitu.”
“Kamu memang orang yang baik,Lice. Aku salut sama kamu.”
“Nggak juga kok. Aku malah banyak kekurangan.”
Bel istirahat masuk berbunyi nyaring. Percakapanku dengan Farid terpaksa berhenti disini. Ibu guru sudah masuk kelas dan memulai pelajaran selanjutnya akan dimulai lagi.

to be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar